REBMAGZ

Digitalisasi Pameran 100 Tahun Albert Camus

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pameran 100 Tahun Albert Camus: Interaktif, Digital, dan Multibahasa
Pada 7 hingga 28 November kemarin berlangsung Festival 100 tahun Albert Camus di Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung dan Auditorium FISIP Universitas Parahyangan Bandung. Festival tersebut diinisiasi oleh IFI Bandung dan Koperasi Keluarga Besar (KKBM) Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR). Berbagai macam acara digelar, mulai dari diskusi film, kuliah umum, pidato kebudayaan, serta pameran karya Albert Camus. Saya sendiri berkesempatan untuk menghadiri acara yang terakhir.

Tidak mudah untuk mengetahui keberadaan pameran karya Albert Camus. Selain hening, dibutuhkan pula suatu kedalaman intelektualitas serta kecakapan dalam menggunakan teknologi untuk menyelaminya.

Petak kosong di ruang perpustakaan IFI Bandung memuat papan-papan yang berisikan semacam poster yang disusun berdasarkan kronologi waktu. Kita dapat menebak bahwa poster tersebut merupakan ekstraksi dari kehidupan Camus, sejak lahir hingga ia wafat. Ekstraksi-ekstraksi tersebut berkaitan dengan karya yang dibuatnya; yang terdiri dari kutipan-kutipan populer dari karyanya, video di mana ia berbicara dalam bahasa Prancis, dan juga buku-buku yang telah ia tulis.

Namun, seperti yang telah dituliskan pada bagian awal, kita memerlukan sedikit kecakapan dalam penggunaan teknologi untuk menyelami karyanya. Mengapa? Karena pameran tersebut mengintegrasikan teknologi di dalamnya melalui aplikasi yang bisa diunduh dari Play Store di handphone pintar kita.

Jika bingung, kita bisa bertanya pada penjaga perpustakaan yang dengan sigap menjelaskan bagaimana cara menggunakan aplikasi tersebut. Atau jika kuota internet di handphone kita terbatas, IFI Bandung juga sudah menyediakan wifi gratis untuk digunakan. Setelah aplikasi tersebut diunduh, kita bisa melakukan scan pada QR codes yang tertera pada poster-poster tersebut, dan informasi mengenai Albert Camus akan muncul ke hadapan kita.

Ini salah dua kutipan karya Albert Camus yang ada pada pameran tersebut:

“What we call a reason to live is at the same time an excellent reason to die.”
The Myth of Sisyphus, 1942.

“Justice is both an idea and a passion of the soul.”
Combat, 1944.

Aplikasi Albert Camus ini diluncurkan pada Oktober 2013 dan ketersediaannya hanya akan muncul hingga Desember 2014, menurut edaran digital di situs resmi IFI. Pameran ini dianggap sebagai suatu pameran yang mengaplikasikan keragaman bahasa dan bersifat interaktif dengan tampilan digital. Selain itu, pameran ini tidak hanya diadakan di Indonesia, tapi di berbagai negara.

Jika di antara pengunjung pameran ada yang fasih berbahasa Prancis, maka dapat menonton video Albert Camus yang sedang berbicara, tentu dengan melakukan scanning QR codes sesuai dengan kategori yang dipilih.

Jika pengunjung tidak mempunyai smartphone atau tidak terbiasa melihat karya seorang tokoh secara digital, IFI Bandung juga memamerkan buku-buku Albert Camus di rak depan perpustakaannya, baik dalam bahasa ibu Albert Camus, yakni Prancis, maupun dalam bahasa ibu kita, yaitu bahasa Indonesia (terjemahan).

Pameran ini, selain menampilkan evolusi karya dari seorang Albert Camus, juga menunjukkan adanya evolusi dalam bidang teknologi. Jika dahulu kita dihadapkan pada pameran yang bersifat konvensional, melihat wujud dari apa yang dipamerkan secara langsung, maka di era ini kita dipertemukan dengan wujud virtual dari sebuah pameran.

Apapun produk atau instrumen teknologi yang hadir, tetaplah mesti mengusung unsur fungsionalitas, yakni ketika teknologi dijadikan sebagai ajang untuk mewadahi kreativitas manusia[1]. Pameran 100 tahun Albert Camus ini pun nampaknya sudah mampu untuk mengonstruksi unsur-unsur dasar dari sebuah teknologi, yakni yang mewadahi dan menyebarkan informasi mengenai pemikiran Albert Camus untuk direfleksikan oleh manusia di era ini, yang terpisah berpuluh tahun dari hadirnya seorang ‘filsuf’ tersebut. Sehingga absurditas yang diperkenalkan oleh Albert Camus mampu direproduksi dan diasimilasikan dengan realitas yang ada hari ini.

Sekilas tentang Albert Camus
100 tahun yang lalu seorang Albert Camus dilahirkan. Tepat 1 abad di masa kini. Karya-karyanya sering disebut sebagai sebuah hasil kreativitas yang absurd, dengan flow dari plot yang berjalan relatif lama. Sebut saja salah satunya, The Stranger dan The Plague.

Sebagai seorang pengamat, agak sulit untuk membaca keseluruhan yang berkaitan dengan Albert Camus. Beberapa akademisi berusaha untuk mengekstraksi ramuan pemikiran dari Albert Camus ke dalam satu kotak yang bernama eksistensialisme, freedom, humanity, rebellion dan lain-lainnya.

Namun, tampaknya Albert Camus bukanlah seseorang yang terlalu peduli dengan sebutan apa yang menyertainya. Juga nampaknya bukan seseorang yang mau dicap sebagai seorang filsuf atau bahkan politikus. Tugasnya hanyalah terus berkreasi, menuliskan kata-kata, dan berloncatan dari tradisi yang satu ke tradisi lainnya.

Absurditas merupakan konsep dasar yang identik dengan Albert Camus. Agak sulit untuk mengenali apa yang disebut dengan absurditas, namun merujuk pada kehidupan Albert Camus, hal tersebut bisa dikaitkan dengan kepahitan.

Tanpa mengetahui asal usul penyebab, atau bahkan berusaha untuk mengetahui penyebabnya, sebuah penyebab tidak mudah untuk dideskripsikan karena ketika dinarasikan atau dijelaskan lebih jauh hanya akan merujuk pada irasionalitas. Seseorang tanpa diperkenalkan pada alasan atau pilihan, telah dihadapkan pada situasi-situasi ‘absurd’, misalnya dihadapkan pada terorisme, penyakit, dan ketidakadilan.

Absurdity is born out of the confrontation between the two other components: the “human nostalgia” for unity or clarity and the “unreasonable silence of the world.”(Blancard, 2006)[2]

Berkaitan dengan absurditas, Albert Camus juga menyebutkan bahwa rebellion adalah suatu cara untuk berkonfrontasi dengan absurditas. Namun, ia menentang rebellion yang tertuju pada nihilistik yang destruktif, karena hal tersebut justru hanya akan menghancurkan kehidupan.

Rebellion semestinya diperuntukkan untuk solidaritas antarmanusia, ditujukan kepada kemanusiaan, bukan untuk mewadahi keluhan yang bersifat personal/individual. Pernyataan ini juga dibuktikan oleh salah satu pertentangan dua orang sahabat, yakni antara Albert Camus dan Jean Paul Sartre.

Dalam Perang Dunia, Sartre memposisikan dirinya pada pihak-pihak tertentu, namun Camus justru menolak ajakan Sartre dan berpendapat bahwa semestinya yang dilawan adalah perang itu sendiri. Ini membuktikan bahwa Camus menempatkan rebellion pada tataran kemanusiaan.

Oleh karenanya, pemikiran Albert Camus mengenai absurditas dan rebellion nampaknya dapat direfleksikan pada kehidupan masa kini, dalam bentuk-bentuk yang beragam. Dalam menghadapi absurditas dan di dalam aksi-aksi rebel, tiada pernah ada tindakan destruksi ataupun kepahlawanan individual; dua hal tersebut selalu berkaitan dengan solidaritas, makna, kejujuran, dan kolektivitas.

“Tapi saya tetap wajib mengatakan kepada Anda bahwa dalam hal ini, tidak ada kepahlawanan. Ini adalah kejujuran. Ini memang satu ide, satu pikiran yang bisa membuat tertawa tetapi yang merupakan satu-satunya cara berperang melawan sampar, yaitu kejujuran!”–Rieux [3]

Teks: Asmara

[1] Mahzar, A. (2004). Revolusi Integralisme Islam. Bandung: Mizan.

[2] Blanchard, B. J. (2006). Albert Camus’s Meditative Ascent: A Search for Foundations in The Plague. MA Thesis in the Lousiana State University.

[3] Camus, A. (2006). Sampar. Diterjemahkan oleh NH Dini. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 2, 2013 by in INFO, REPORTASE and tagged , , , , .
%d blogger menyukai ini: