REBMAGZ

Meme: Senyawa dari Gen

Virus-of-the-Mind

Bukunya Richard Brodie yang berjudul “Virus of The Mind: The New Science of Meme” mampu menjelaskan tentang meme dan memetika dengan cara yang segar; dibumbui dengan gelitik humor, namun detail dalam menjelaskan informasi.

Yang menarik dari buku Richard Brodie adalah terdapat beberapa pertanyaan yang menggelitik, mengapa beberapa orang masih memilih politisi yang tidak efektif dalam bekerja? Dan mengapa setiap orang masih mengonsumi makanan atau minuman yang bisa berbahaya untuk kesehatan?

Dalam cakupan keilmuan yang dimiliki Brodie, sudah jelas bahwa yang bergerak adalah meme-nya. Dan pertanyaan-pertanyaan itulah yang memulai segala perjalanan menulis dari seorang Richard Brodie.

Setiap orang, selain memiliki gen juga dibentuk oleh meme. Meme merupakan suatu mental programming yang mengonstruksi bagaimana seseorang mengadopsi suatu informasi menjadi sikap dan perilaku mereka. Meme dibentuk ketika seseorang mampu melakukan replikasi dari suatu informasi yang didapat dari pemberi informasi lalu menyebarkan informasi tersebut pada orang lainnya.

Secara sederhana, informasi itu berreplika dari satu orang ke orang lainnya. Semakin banyak orang yang terpengaruhi, maka semakin baik pula memenya.

Perlu diketahui bahwa meme yang baik tidak selalu mengandung pengertian benar. Sehingga, informasi buruk pun bisa menyebar melalui meme yang baik. Hal ini dibuktikan dari pertanyaan Brodie sebelumnya: bahkan politisi yang buruk kinerjanya pun bisa dipilih oleh para penduduk!

Replikasi dari segala informasi yang didapat merupakan evolusi dari sebuah meme. Evolusi dari meme itu terjadi sangat cepat bergantung apa yang menstimulasi kita saat itu. Ciri-ciri dari meme yang berevolusi cepat ditentukan pula dari seberapa inovatif, kreatif, serta menarik sebuah ide.

Maka, dapat dikatakan bahwa suatu ide yang mampu memengaruhi banyak orang dari berbagai tempat dan masa dalam waktu yang lama pun ditentukan oleh seberapa kuat ide tersebut diinovasikan, dikreasikan, dan dibentuk oleh meme.

Di bawah ini terdapat beberapa pertanyaan yang membahas tentang meme.

Darimana sajakah meme yang kita dapatkan?
Sederhana. Dari televisi yang kita tonton, musik yang kita dengar, pembicaraan yang kita dengarkan, buku yang kita baca, iklan yang kita lihat terus-menerus, dan sebagainya. Segala meme mengelilingi kita. Seolah-olah kita berada dalam lingkungan yang sangat bising.

Dari mulai kapankah kita terinfeksi oleh virus meme?
Brodie menyatakan bahwa sejak kita lahir, kita sudah mulai terinfeksi oleh meme. Berdasarkan hal itu, bisa dikatakan bahwa karakter yang dibawa kita saat ini, selain dipromosikan oleh gen, juga dibentuk oleh meme. Maka, setiap orang memiliki pilihan dan caranya masing-masing dalam bersikap dan bertindak terhadap suatu hal.

Seperti apakah meme yang baik serta berisikan ide yang positif?
Kita tidak dapat menentukannya. Banyak meme yang dianggap mengandung ide positif tapi justru dianggap tidak relevan dengan kepribadian banyak orang. Misalnya, banyak siswa diminta belajar lebih banyak dan tekun, hal tersebut diperuntukkan untuk masa depan mereka; yang mana diharapkan mereka di masa yang akan datang dapat menjadi pekerja yang produktif.

Tapi apakah setiap orang memiliki tujuan hidup untuk – sekedar –  menjadi pekerja yang produktif? Tidak selalu. Produktivitas hanyalah satu buah variabel. Maka diperlukan berbagai macam variabel lainnya untuk membentuk karakter seorang manusia, tak sekedar (dan bukan berarti tidak diperlukan) produktivitas.

Sehingga, variabel-variabel tersebut akan tertuju pada suatu tujuan tertentu – yang menurut Victor Frankl – setiap orang memiliki makna dan tujuannya tersendiri dalam hidup. Akan sangat kontradiktif jika seseorang memiliki produktivitas dalam bekerja, namun produktivitas yang ditunjukannya dan orang-orang di sekelilingnya dalam suatu perusahaan justru membuat efek buruk, misalnya kerusakan lingkungan (ini hanya satu contoh). Maka, kita tidak bisa hanya melibatkan satu meme yang baik dengan ide positif tanpa melihat keseluruhan realitas yang ada.

Bagaimana cara kita melawan meme?
Tidak ada cara yang efektif untuk melawan meme, bahkan kita tidak dapat menolaknya. Hal tersebut dikarenakan meme mewujud pada informasi-informasi yang memang dibutuhkan oleh kita dan terbiasa mengada di keseharian kita.

Maka, cara yang dapat kita lakukan adalah memilih manakah meme yang dapat diinfeksikan kepada kita. Memang hal ini cukuplah rumit karena dari banyak meme yang berlalu lintas dengan penuh kebisingan di sekitar kita, kita diharuskan memilih sekian meme yang diprediksikan dapat mengakar secara aman serta damai pada diri kita; dan diharapkan juga mampu menelurkan sikap serta perilaku yang positif.

Kondisi dihadapkan dengan banyak meme yang bising ini dapat disebut sebagai collective trance, yakni keterpukauan terhadap lingkungan.  Yang menurut Charles T. Tart harus didobrak dengan berbagai metode yang memperkuat mawas diri kita. Misalnya, meditasi untuk menciptakan keheningan dan fokus terhadap tujuan diri kita.

***

Empat pertanyaan di atas merupakan pertanyaan-pertanyaan yang berusaha dijawab oleh Richard Brodie dalam bukunya. Namun, selain hal di atas, Brodie juga menekankan pada pendidikan sejak usia dini, di mana anak-anak tidak dihadapkan atau dibentuk untuk menjadi karakter tertentu, tapi difasilitasi untuk mencapai tujuan hidup mereka.

Sehingga tugas berikutnya yang patut dicari adalah seperti apakah kurikulum yang tepat serta guru-guru yang mampu mendidik anak consciously (secara sadar); yang berlaku untuk seluruh karakter bawaan serta latar belakang yang menggiring anak-anak tersebut? Apakah ada orang yang sudah menemukan atau sedang melaksanakannya?

Richard Brodie akan senang membaca jawaban yang diberikan lewat alamat e-mailnya (tentu akan direspon dengan berbagai tanggapan, kritik maupun tantangan lainnya, barangkali).

Brodie dalam tulisannya mengaku telah melakukan infeksi virus meme pada pembacanya. Berkaitan dengan hal itu, penulis yang telah menulis review buku dari Brodie tentang meme, dapat dikatakan pula telah terinfeksi meme yang berkaitan dengan meme versi Richard Brodie. Barangkali hal tersebut akan terjadi pada pembaca tulisan ini. Berikut kutipan penerbit di belakang bukunya:

“WARNING: This book contains a live mind virus. Do not read this book unless you are willing to be infected. The infection may affect the way you think in subtle or not so-subtle ways, or even turn your current world view inside out.”

Asmara

———
Judul Buku: Virus of The Mind: The New Science of Meme
Penulis: Richard Brodie
Tahun terbit: 1996
Penerbit: Integral Press
Tebal buku: 233 halaman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: