REBMAGZ

Snowman – Absence: Merayakan Kematian dengan Sempurna

Sebenarnya saya sedang dalam kondisi candu dengan album ini. Biasanya, bila kondisi ini menyambangi, saya masih belum mau untuk menuliskan ulasannya cepat-cepat. Alasannya sih sederhana: saya cuma tidak ingin ada aktivitas lain ketika asyik dengan sebuah album. Kecuali jika saya sudah sampai pada titik bosan akan album tersebut.

Sebenarnya saya sedang dalam kondisi candu dengan album ini. Biasanya, bila kondisi ini menyambangi, saya masih belum mau untuk menuliskan ulasannya cepat-cepat. Alasannya sih sederhana: saya cuma tidak ingin ada aktivitas lain ketika asyik dengan sebuah album. Kecuali jika saya sudah sampai pada titik bosan akan album tersebut.

Namun kali ini agak celaka. Hingga tulisan ini diturunkan, titik itu belum juga saya temukan pada Absence. Padahal entah sudah berapa kali materi demi materinya melenggang bebas dan berputar kokoh tanpa pesaing di playlist saya hingga ia mendapatkan predikat “most played”. Dan itu sudah berjalan selama kurang-lebih seminggu terakhir ini.

Absence. Adalah tajuk album dari kuartet experimental rock asal Perth, Australia Barat, Snowman—yang dirilis oleh Dot Dash Recordings, belum lama ini. Snowman sudah berdiri sejak 2003. Mereka sudah memiliki beberapa buah rilisan, yaitu:  Zombies on the Airwaves of Paris/EP (2004), Snowman (2006), The Horse, the Rat and the Swan (2008) dan yang terbaru, Absence (2011). Di luar itu, karya-karya mereka juga telah mengisi beberapa buah album kompilasi.

Mendengarkan Absence memberi kejutan tak tentu buat saya. Emosi ini serasa diacak-acak. Terlebih lagi sebelum saya sempat mendengarkan diskografi mereka terdahulu. Jujur saja, saya tak punya pengalaman mendengarkan lagu-lagu mereka sebelum ini. Selain karena referensi musik saya yang tidak begitu baik, mereka juga tidak begitu akrab di kalangan pemerhati musik diIndonesia. Bukan soal karena mereka tidak bagus, melainkan karena kabar tentang mereka sebelumnya—yang entah mengapa di sini—tidak pernah terdengar dan naik ke permukaan. Dan bahkan, media-media di sini pun absen membicarakan mereka.

Tapi itu dulu.

Sejak awal Mei kemarin, semuanya berubah. Snowman mendadak mulai ramai diperbincangkan di forum-forum musik jagad maya meski pemberitaannya belum terlalu masif di angkat di halaman media. Sepertinya sudah banyak yang gatal untuk mencaritahu dan menelusuri lebih jauh tentang siapa sebenarnya band ini.

Adalah Aditya ‘Andy’ Citawarman, seorang Indonesiayang besar di Australia—yang kini bermukim dan bekerja di London, UK, yang menjadi sumber dari semua kabar yang beredar tentang Snowman akhir-akhir ini, di sini. Ia adalah salah satu member dari band potensial ini.

Andy mengirimkan kabar baiknya yang sekaligus juga mengejutkan melalui e-mail pribadinya kepada kami, pada 4 Mei lalu—yang sepertinya pula diteruskan kepada teman-teman media yang lain—dengan subjek “Snowman – Absence_Hello fromLondon”. Saat itu, dalam suratnya, Andy memperkenalkan dirinya seraya mengemukakan maksudnya dengan sedikit bercerita:

“Halo, nama saya Andy Citawarman. Saya main di band Snowman. Kami berasal dari Perth, tapi sekitar 3 tahun lalu pindah ke London. Kami baru aja ngeluarin album baru, Absence. So far responnya lumayan positif. Termasuk dari… (Andy menyebutkan media-media nagri yang telah me-review album mereka). Tapi bingung euy masih belum ada reaksi dari Indonesia, negara tumpah darah saya sendiri. He-he-he..”

Begitulah Andy menyampaikan kabar ini kepada kami. Tak ada yang menyangka memang jika band keren ini digawangi oleh (salah satunya) orang Indonesia. Apalagi Andy juga merupakan salah satu motor penggeraknya. Ini agaknya juga mengingatkan kita pada dua band Australialainnya—yang pula memiliki personil kelahiran negeri ini: Young and Restless dan The Temper Trap. Hal ini tentunya bisa membuat kita semakin bangga.

Selain itu, dalam suratnya, Andy juga menyertakan link promosi albumnya berikut ulasan dari media-media di luar sana yang sudah lebih dulu mencicipi materi album baru mereka. Termasuk salah satunya adalah link ulasan Joe Tangari di laman media musik internasional yang cukup berpengaruh: Pitchfork Media. Absence dari Snowman diganjar poin 8.0 oleh mereka disana. Dan itu artinya album ini patut untuk dicurigai kualitasnya. Dan ya, saya pada akhirnya menaruh kecurigaan yang begitu besar!

Jebakan dan Teror Manipulasi Suara
Saya masih terpaku pada delapan lagu yang ada dalam Absence ketika menuliskan bagian kalimat ini. Tak ingat sudah melewati putaran yang keberapa. Dan saya masih saja belum yakin dengan kata-kata yang harus saya keluarkan untuk menggambarkan keseluruhan isi yang terbentang di dalamnya. Saya masih terjebak dalam dunia rekaan mereka yang belum saya mengerti jalan ceritanya. Dan itu terus dan terus saja mengaburkan ‘kata-kata’ yang telah terpikirkan di kepala ini.

Coba saja Anda ikut membayangkan keadaan ini: Ketika bisikan-bisikan lirih begitu jelas terngiang di telinga Anda, namun Anda tidak mengetahui dari sudut sebelah mana asal sumber suaranya. Dan pula seketika di saat rangkaian manipulasi suara terdengar kian mencekam tak berkesudahan, ia malah menunjukkan kuasanya atas diri Anda.

Lalu bayangkan pula ketika kedatangan Anda dengan maksud baik dalam sebuah perjamuan malah disambut dengan rupa pertunjukan dari sekelompok paduan suara yang terdengar lebih seperti sedang mengiringi sebuah upacara duka.

Apa yang kiranya ada dalam pikiran Anda dan akan Anda lakukan dalam keadaan yang demikian?

Saya yakin, Anda tidak akan bisa berbuat apa-apa selain termangu seraya bertanya-tanya dalam kepala, Anda sedang berada di tempat macam apa. Dan ini tak bedanya dengan apa yang saya alami di muka bukan?

Adalah “Snakes & Ladders”, materi pembuka album ini yang sepertinya bisa dimintai pertanggungjawaban atas keterjebakkan diri kita di kondisi yang ‘entah’  ini. Lagu ini seperti memainkan sebuah peran sebagai kidung pengiring tarian selamat tinggal untuk kisah abu-abu yang sanggup menempatkan diri kita pada sebuah posisi “di antara”.

Tempo lagunya yang ‘menari-nari’ hanyalah rupa sebuah kamuflase yang sengaja mereka ciptakan untuk mengaburkan maksud dan tujuan mereka sesungguhnya—agar dapat menuntun pendengarnya (termasuk kita) untuk masuk lebih jauh ke dalam skenario terencana mereka.

Dan ‘sialnya’ mereka berhasil melakukan itu.
Mereka berhasil menjebak kita.
Mereka cerdik..

“Snakes & Ladders”, di sini, menjadi pintu masuk guna menyelami inti kisah selama 40:28 menit ke depan. Tapi ingat, ia hanya mewakili dirinya sendiri, tidak bagi keseluruhan materi lain yang terbentang di dalamnya. Ia hanyalah penuntun arah bagi siapa saja yang ingin mengikuti kisah rekaan para pelaku utama di album ini: Aditya ‘Andy’ Citawarman, Joseph ‘Joe’ McKee, Olga Hermanniusson, dan Ross DiBlassio.

“Snakes & Ladders” adalah materi terharmonis dan termelodis—dan sesungguhnya adalah yang paling ramah dan mudah dicerna dari Absence. Semua lini departemen mereka seperti bermain aman dengan notasi-notasi sederhana di lagu ini. Mulai dari ketukan drum tribal Ross yang terkesan sengaja dibuat lemah dan nyaris monotonik—serta minimalisasi output gitar yang berlebihan dari Andy dan Joe.

Namun di luar itu, lini departemen vokal yang diisi oleh tiga suara dari Joe, Andy dan Olga adalah yang mendapat perhatian terbesar dan tampil dalam performa terbaiknya di materi ini. Begitu pula dengan manipulasi suara efek riuh-rendah yang keluar dari synthesizer mereka—serta iringan piano yang memainkan notasi-notasi klasik yang turut mendukung dan melatari vokal dari ketiganya. Dominasi bagian-bagian ini terasa cukup kentara.

Penyuguhan tiga jenis karakter vokal di lagu ini saya rasa berhasil membuahkan kombinasi choir yang rapi dan megah, sekaligus suram. Masing-masing vokal saling mengisi dan melapisi satu sama lainnya. Lagu ini saya rasa pas untuk mengawal para penari dansa muram dalam sebuah ruang pertunjukan yang berpencahayaan temaram. Dan percayalah, racunnya begitu kuat di bagian ini.

Memasuki materi kedua, perjalanan pun nampak mulai terlaksana sesuai dengan apa yang mereka rencanakan. Secara tak sadar kita telah ditarik masuk, dan kini tengah berada di dalam—untuk menyusuri lebih jauh, betapa gelap dan mencekamnya petualangan manusia-manusia salju ini.

// hyena..hyena // hyena..hyena
   hyena..hyena // hyena..hyena
   hyena..hyena // hyena..hyena //

Mereka memanggil-manggil seekor hyena.
Berkali-kali, seperti melontarkan puji-pujian kepadanya.

Hyena, hewan itu, mungkin saja akan tergoda untuk keluar dari sarangnya di tengah hutansana setelah mendengar panggilan ini. Ini sama saja dengan melakukan sebuah usaha untuk memancing teror murka mereka.

Dan sesaat saya pun mencoba menambahkan sebuah bayangan akan adanya lolongan panjang hyena di 30 detik terakhir lagu ini.

Membayangkannya berada dekat tepat di samping saya.
Merasakan hembusan nafas sengalnya di leher saya.
Lalu ia menerkam saya dengan sekejap!
Ya, “Hyena”..

Di luar itu, saya berpikir apakah lagu ini seperti memiliki benag merah dengan beberapa lagu mereka di album terdahulu yang kerap menyematkan nama hewan sebagai judulnya. Seperti contohnya “Termites” di album Zombies on the Airwaves of Paris, “Swimming with Sharks” pada album Self-Titled mereka, dan/ataupun “The Blood of the Swan” dan “The Horse (Parts 1 & 2)” di album The Horse, the Rat and the Swan.

Apakah lagu-lagu ini menjadi semacam tribut mereka untuk hewan-hewan itu? Entahlah. Mungkin pada kesempatan yang lain saya akan menanyakan terkait tentang hal ini kepada mereka.

Secara musikal, dalam “Hyena” Snowman menggabungkan elemen drum tribal yang sureal, gemuruh gitar dan bas yang mencekam, melodi-melodi psychedelic yang cukup membius—dan kemudian dilengkapi dengan sentuhan efek noise menjelang akhir-akhir lagu yang menegaskan citra eklektis mereka sebagai sebuah grup dalam setiap rilisan.

“Hyena” adalah singel andalan mereka di album ini.Pula..
“Hyena” adalah teror!

Membunuh Ekspektasi, Menghidupkan Ragam Sensasi
Dalam beberapa kesempatan saya mencoba berselancar lebih jauh untuk menemukan Snowman di sudut-sudut jagad maya. Mendengarkan beberapa rilisan mereka terdahulu, merasakan citarasa yang ditawarkan, dan lalu mencari tahu respon masyarakat pendengarnya.

Ternyata, dari yang saya dapat benar adanya bahwa mereka kerap menyuguhkan beragam rasa dalam setiap albumnya. Dan kala itu puncaknya dinilai ada pada The Horse…, album penuh kedua Snowman yang keluar pada 2008.

Tapi satu yang perlu kita ketahui, dari keberagaman yang mereka tawarkan lewat musiknya justru di sisi lain hal ini dianggap ‘menghancurkan’ ekspektasi para pendengar mereka sebelum ini. Dan itu terjadi pada Absence. Banyak dari para penggemar mereka yang berharap mendapatkan sensasi yang sama ketika mendengarkan The Horse… pada album ini. Menemukan komposisi suara yang serupa, liar, menggebu-gebu. Namun sayang, Snowman menjungkirbalikan ekspektasi mereka.

Tapi lucunya, di kala ekpektasi-ekspektasi itu dibenamkan di album ini, mereka tetap menyambut baik materi-materi Absence—dan malah memberi respon yang melebihi respon mereka terhadap rilisan sebelumnya. Mereka menilai Absence sebagai pencapaian terbaik Snowman untuk saat ini meski sangat berbeda dengan The Horse…. Andy cs. dianggap berhasil melahirkan sensasi maksi pada rilisan teranyar mereka kali ini.

Dan memang, jika kita coba telisik perbedaan antara The Horse… dan Absence, jelas sekali beda keduanya cukup runcing. Buat saya, The Horse… muncul sebagai manifestasi sisi ekstrover Snowman: abrasif, liar, agresif, dan begitu menggebu-gebu. Lewat album ini mereka menyabet begitu banyak penghargaan di Australia. Mulai dari “Favourite New Comer” hingga “Best Male Vocalist” di ajang penghargaan musik yang cukup bergengsi di barat Australia—dimana Andy memenangkan satu dari dua kategori ini. Dan selanjutnya wajar saja jika dari sini kemudian banyak penggemar mereka yang mengharapkan sesuatu yang sama dengan The Horse… akan tersaji ketika Snowman mengeluarkan album baru.

Sementara itu dalam Absence, Snowman justru tampil sebagai sekumpulan pendiam yang bergabung dalam sebuah kelompok yang introver dan misterius—dengan vokal lirih, ambiensi mengawang, manipulasi sound yang gelap, dan alur lagu yang dramatik. Snowman tak disangka-sangka berubah menjadi ‘lemah’ kali ini. Dan ini mengejutkan banyak penggemar mereka. Mudahnya, di album ini Snowman lebih banyak ‘berbisik’ ketimbang ‘berteriak’.

Namun demikian, walau Absence menyuguhkan sesuatu yang tidak sama dengan apa yang ada pada The Horse… bukan berarti ia tidak maksimal. Justru jauh dari apa yang pernah Snowman berikan sebelumnya, Absence menjadi sebuah album yang dinilai banyak kalangan sebagai pencapaian terbaik mereka sepanjang perjalanan karir bermusik mereka delapan tahun ini. Dan saya pikir setelah ini, Snowman bersama Absence-nya juga layak untuk meraih penghargaan-penghargaan berikutnya.

Epos Musikal, Kidung Selamat Tinggal
Perjalanan saya bersama Snowman dalam Absence terus berlanjut. “White Wall”, “Séance”, dan “A” mengambil alih peran dua nyanyian sebelumnya—dan semakin memperjelas maksud dan tujuan yang ingin mereka sampaikan lewat album ini.

“White Wall” adalah materi tergelap dengan atmosfer ‘dingin’ tanpa prelude dalam Absence. Kemunculannya seolah menguatkan firasat akan terjadi sesuatu yang buruk dalam sisa-sisa waktu yang ada.

Harmonisasi vokal satu-dua, utama dan latar, terasa sangat halus dan agak menakutkan. Tekstur musikalnya yang gelap dengan lenguhan vokal latar “oh..oh..” yang muncul menjauh-mendekat  membuat “White Wall” menyiratkan sebuah sapaan akan kepergian. Dan entah mengapa, jika lagu ini kita resapi secara mendalam, ia akan terdengar menjadi begitu sedih. Ia juga adalah materi yang sanggup membuat kita menjadi sangat-sangat emosionil dalam waktu empat menit.

Lalu, unsur ke-Indonesia-an kemudian masuk cukup jauh pada lagu “Séance”. Eksplorasi mereka dengan gamelan—yang sebenarnya juga telah mereka lakukan pada rilisan-rilisan sebelumnya—kembali turut disertakan dalam kesempatan kali ini. Dan ini terasa sangat kental sekali pada materi ini.

Snowman.. Serupa dengan wujudnya yang dingin, lewat kehadiran album ini nampaknya semakin menguatkan identitas yang mereka punya. Delapan tahun, sejak 2003, keempat member lintas negara dan kultur ini menggabungkan ide-ide brilian mereka untuk menciptakan karya musik yang epik dan megah. Andy Citawarman yang seorangIndonesia, Joe McKee yang seorang Inggris, serta Olga dan Ross yang seorang Islandia dan Italia.

Namun entah mengapa, di saat kesempatan besar menghampiri, dimana mereka sedang ramai-ramainya dibicarakan di sana-sini pasca-rilisnya Absence—justru keempatnya malah memutuskan untuk mengakhiri karir mereka bersama-sama sebagai sebuah grup musik secara tiba-tiba.

Dan “A” seolah hadir untuk mewakili secara tidak langsung mengapa hal itu harus terjadi pada mereka dalam keadaan yang sebenarnya baik ini. Di sini mereka seolah tak cukup mampu untuk berkata-kata dan memberikan jawaban yang jelas mengapa nasib mereka harus berakhir di tangan mereka sendiri. “A” adalah satu-satunya materi ‘bisu’ dalam Absence yang mungkin mewakili sebuah kondisi serta perasaan bersalah mereka karena keputusan yang mereka buat.

“Memory Lost,” “A Vanishing Act,” dan “Absence”menjadi klimaks momentum kehilangan yang terasa cukup berat sebagai materi yang tersisa dari Absence­. Ketiganya adalah nyanyian ‘selamat tinggal’ yang sukses mengakhiri perjalanan kisah keempat sahabat lintas Negara ini dengan sempurna. Masing-masing mereka, di sini, mengeluarkan performa terbaiknya untuk menuntaskan pencapaian mereka hingga di puncak.

Hingga pada akhirnya, setelah ini mereka berempat akan berjalan berpencar mewakili diri mereka sendiri sebagai seorang individu. Namun satu yang perlu dicatat, meski mereka telah menyatakan membubarkan diri, keputusan ini tidaklah berlaku bagi karya-karya mereka. Karena Absence (juga album-album mereka yang lain) niscaya akan tetap utuh dan lestari sampai kapanpun. Dan dari sana, Snowman dipercaya akan tetap hidup—dalam lagu-lagunya, dalam epos musikalnya, selama mungkin.

Teks oleh Zelva Wardi

__________
Artis: Snowman
Album: Absence
Tahun Rilis: 2011
Genre: Experimental Music, Ambient, Tribal, Post-Punk, Psychedelic, Eclectic
Label: Dot Dash Recordings

Tracklist:
1. Snakes & Ladders
2. Hyena (1st single)
3. White Wall
4. Séance
5. A
6. Memory Lost
7. A Vanishing Act
8. Absence

Streaming:
Snowman – Hyena uploaded by Rebelzine

Buy on:
iTunesAmazon | eMusic

Snowman adalah:
Aditya ‘Andy’ Citawarman – Guitar, Vocals, Violin, Keys
Joseph ‘Joe’ McKee – Guitar, Vocals, Gamelan
Olga Hermanniusson – Bass, Vocals, Saxophone
Ross DiBlassio – Drums, Percussion

Diskografi:
Album
–    Zombies on the Airwaves of Paris (EP) – Shock Records (2004)
–    Snowman (S/T) – Dot Dash/Inertia Records (2006)
–    The Horse, the Rat and the Swan – Dot Dash Recordings (2008)
–    Absence – Dot Dash Recordings (2011)

Kompilasi
–    WAMi Weekender Compilation CD – Lost in the Woods (2004)
–    Home and Hosed Volume 3: Ripe and Ready – Lost in the Woods (2005)
–    Kiss My WAMi 2006 – Blood Money (2006)

URL:
http://www.thesnowmanempire.com
http://www.myspace.com/thesnowmanempire
http://www.facebook.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: