REBMAGZ

The Final Frontier: Sebuah Kemegahan Hajatan Besi Ala Iron Maiden

Seberapa sering kita mendengar lagu-lagu Iron Maiden? Berapa lagu milik mereka yang kita tidak hafal? Berapa banyak kita menonton rekaman pertunjukkan mereka lewat DVD? Dan pernahkah kita menonton konser mereka secara live?

Dengan hadirnya saya di pantai karnaval Ancol pada hari kamis, 17 Februari kemarin, saya bisa menjawab pertanyaan terakhir: saya pernah menonton konser Iron Maiden! Ya, pionir heavy metal ini bermain di Indonesia untuk pertama kalinya dalam rangkaian “Final Frontier World Tour 2011”.

Berita kedatangan Iron Maiden ini sebelumnya telah santer terdengar sejak akhir 2010. Banyak yang antusias, namun banyak juga yang ragu. Dan saya adalah salah seorang yang termasuk ragu akan terwujudnya konser ini di Indonesia mengingat mahalnya biaya produksi untuk memboyong legenda metal asal London Timur, Inggris ini.

Namun semua keraguan saya itu terjawab sudah oleh sang promotor, Original Production. Lebih dari 10.000 kepala berhasil tersedot dan menjadi saksi sejarah sebuah perhelatan metal termegah dan tersukses yang pernah terlaksana di negeri ini.

Saat tiba di lokasi, saya menelusuri jalan yang cukup panjang dengan pesan sponsor yang aduhai lebay-nya: “Rockers Cinta Damai”. Setahu saya konser internasional rock/metal yang rusuh itu terjadi tahun 1993 . That was almost twenty years ago, honey!

Ketika menuju gate kedua, ada satu pemandangan dimana cukup banyak penonton yang tidak berhasil masuk oleh karena keberadaan tiket palsu yang mereka punya. Oh, well.

Acara dibuka oleh band bawaan Iron Maiden, Rise to Remain—yang vokalisnya ternyata adalah anak kandung Bruce Dickinson. Dengan hanya memainkan beberapa buah lagu, band metalcore asal London ini akhirnya harus menerima jikalau penonton yang hadir hanya menunggu the Mighty Iron Maiden.

Setelah jeda hampir satu jam sejak Rise to Remain turun panggung, pukul 21.15 yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Bermain di atas panggung dengan atribut raksasa dan latar belakang visual yang keluar dari giant screen, Bruce Dickinson (vokal), Steve Harris (bass), Dave Murray (gitar), Janick Gers (gitar), Adrian Smith (gitar) dan Nicko McBrain (drum) tampil dengan gagahnya. Mereka mengawali penampilan malam itu dengan lagu yang bertajuk sama dengan nama tur mereka kali ini, The Final Frontier.

Penonton mulai panas, namun banyak yang lebih memilih fokus menonton daripada melakukan moshing. Saat Bruce berteriak “Scream for me Jakartaaaaaaaaaaa..!” barulah adrenalin para penonton terbakar dan memulai aksi lelompatan serta membuat circle pit.

Seorang remaja di depan barisan saya, bergaya rambut mohawk, berkaos Iron Maiden—dan sesekali menghisap rokok nampak sibuk menyontek setlist dari ponselnya. Sepanjang konser dia hanya bisa menyanyikan satu lagu: The Trooper.

Ya, pada saat The Trooper dimainkan Bruce mengganti kostum tentara dan bernyanyi sembari mengibarkan Union Flag hingga membuat sepuluh ribu pasang mata larut dalam anthem tetua-tetua logam ini.

Bruce memang seorang frontman sejati. Sepanjang konser, energinya seperti tak ada habisnya. Ia memukau penonton dengan menunjukkan kualitas suara yang masih prima walau usianya telah memasuki senja. Dia juga yang menerbangkan flight Iron Maiden 666 sepanjang perjalanan tur mereka. Orang ini manusia setengah dewa, sepertinya.

Di panggung, Bruce mengatakan kalau mereka senang ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dan walaupun lagu-lagu mereka kerap berisikan tentang kematian, bukan berarti Iron Maiden adalah band yang negatif. Bruce kemudian malah bersabda bahwa mereka tidak peduli perbedaan ras, agama ataupun bangsa, kita semua sama. Blood Brothers-pun lantang berkumandang.

Dan selang berapa materi kemudian..

“Fear of the dark! Fear of the dark!”

Tentu saja perempuan yang berada di samping saya hafal betul dengan lagu ini. Dia menyanyikannya dengan fasih. Tapi bukan hanya dia saja, kor panjang pun sontak terjadi di seantero pantai karnaval untuk sebuah ritus nyanyian bersama pada materi keduabelas ini. Suasana pun riuh..

Lalu berlanjut setelahnya dengan Iron Maiden yang membuat semua orang terperangah senang karena di sini, sang maskot, Eddie, dengan tingginya yang berkisar sekitar 3 meter akhirnya menampakkan wujudnya!

Gemuruhlah Ancol!

Kedatangan Eddie-pun membawa semua personil Iron Maiden untuk menghilang dari panggung. Seperti halnya yang selalu terjadi dalam setiap perhelatan konser, teriakan “mau lagi” juga terdengar di mana-mana. Teriakan tersebut baru berakhir ketika para tetua metal muncul lagi ke atas panggung dan mengiyakan maunya penonton dengan melontarkan tiga materi kebangsaan tambahan, macam Number of the Beast, Hallowed by Thy Name dan ditutup dengan Running Free.

Kemegahan panggung, penampilan atraktif mereka, lagu yang melegenda dengan permainan individual yang luar biasa, dan pula sound yang apik membuat semua penonton yang hadir tersenyum puas. Tiket yang dibanderol relatif mahalpun dapat terbayar oleh konser yang ditunggu oleh semua insan metal di seluruh jagat ini.

Teks oleh Novita Kee Wee
Foto oleh Nelwin Ardiansyah

Setlist:
Start 21.15

1. The Final Frontier
2. El Dorado
3. 2 Minutes to Midnight
4. The Talisman
5. Coming Home
6. Dance of Death
7. The Trooper’
8. The Wickerman
9. Blood Brothers
10. When the Wild Wind Blows
11. Evil that Men Do
12. Fear of the Dark
13. Iron Maiden
Encore:
14. Number of the Beast
15. Hallowed be Thy Name
16. Running Free

End 23.10

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 6, 2011 by in REPORTASE and tagged , , , .
%d blogger menyukai ini: