REBMAGZ

Frau: Tentang Musik, Nama Besar, dan Perihal Ketidaksetiaannya Terhadap Oskar

Mulanya mencuri perhatian lewat Mesin Penenun Hujan. Setelahnya, banyak orang dibuatnya bergumul dengan rasa penasaran karena namanya ramai diperbincangkan. Ia muda. Pula multi talenta. Ia bernyanyi. Memainkan piano untuk lagunya sendiri. Dan menuliskan syair berkelas. Ia adalah penyanyi, musikus, komponis dan sekaligus lirisis—yang kalau tidak berlebihan kami bisa katakan layak diperhitungkan di belantika musik tanah air saat ini.

Baca selengkapnya »Lani biasa ia disapa. Pemudi yang katanya biasa saja. Layaknya perempuan kebanyakan sebayanya yang sibuk dengan rutinitas perkuliahan. Dengan bakat yang dimilikinya, seharusnya jalan menuju tampuk kedivaan dengan nama besar di masa datang terbuka lebar baginya. Bukan tidak mungkin jika ia menginginkannya.

Namun dalam bincang-bincang ini ia memberi pandangan lain terkait pertanyaan kami tentang hal tersebut. Ia mengungkapkan apa yang telah diciptakannya saat ini di balik nama Frau hanyalah efek terusan dari kecintaannya akan musik, kesenangannya membuat lagu, dan keinginannya bermain di hadapan khalayak saja. Tak ada motif muluk-muluk apapun. Terlebih menaruh keinginan tinggi untuk menjadi solois perempuan yang memiliki nama besar di masa datang.

Di luar itu, Lani juga berbagi banyak cerita tentang dirinya, Oskar, dan Starlit Carousel. Penasaran, seperti apa paparan pemilik nama lengkap Leilani Hermiasih Suyenaga ini atas materi banyak tanya yang kami gelontorkan kepadanya? Berikut hasil bincang-bincang kami selengkapnya yang walau dibatasi jarak tetap dapat terjalin erat dan dapat terasa kualitas intimasinya.

 

Bagaimana kamu memperkenalkan Frau sebagai sebuah identitas panggung dan Frau sebagai seorang perempuan biasa bernama Leilani Hermiasih Suyenaga? Apakah Frau itu adalah Lani, Lani itu adalah Frau, dan lagu-lagu Frau itu adalah representasi dari satu karakter diri dalam dua identitas yang berbeda?

Saya itu Lani. Sedangkan Frau itu hanya nama panggung untuk segelintir lagu yang saya buat dengan piano ini. Saya mengimajinasikan bahwa Oskar itu hidup, dan patut diperhitungkan sebagai sesuatu yang berkontribusi dalam musik Frau, dan kami sebuah band. Bebas bukan?

Soal identitas yang berbeda saya menolak, karena memang saya yang membuat lagu. Tapi interpretasi pendengar bukankah berbeda? Karakter Frau tidak selalu sama bagi setiap orang yang mendengarkan, bisa jadi lagu saya dianggap lucu, ceria, atau bahkan suram, terserah pendengar. Tapi yang jelas, identitas Frau saya bentuk untuk menandai perempuan yang memakai rok bermain piano, dan itu jarang dijumpai ketika saya kuliah atau sedang nongkrong di warung kopi misalnya.

Rilisan pertama kamu, versi EP dari Starlit Carousel yang dikeluarkan Musicbox Records tahun lalu sebegitu mencuri perhatiannya. Bahkan versi demonya sudah lebih dulu beredar di kota tempatmu (Jogja) dan sukses jadi perbincangan. Bagaimana kamu menyikapi apresiasi para pemerhati dan penikmat musik akan karya-karya perdana kamu kala itu?

Senyum dan duduk manis. 🙂 Oh ya, sebenarnya bukan Musicbox, itu cuma kebetulan banyak yang minta. Jadi, sambil jualan kaos diberi bonus CD. Namanya juga demo (yang saya rekam sendiri dengan Oskar dan laptop saya), dan itu keluar lebih  dulu di account Myspace Frau.

Dan ketika diluncurkan kembali via Yes No Wave Music pada Maret lalu dengan dua materi berbeda yang tidak ada pada versi sebelumnya, sudah terbayangkan kah kira-kira akan seperti apa lagi respon masyarakat penanti karya-karyamu ini? Bagaimana perasaan kamu?

Senang sekali, akhirnya keluar. Saya sebenarnya hanya ingin mengeluarkan lagu-lagu saya supaya lagu-lagu itu punya rumah sendiri (yang lebih mapan, he-he) dan saya bisa lanjut membuat lagu-lagu baru lagi. Selain itu, karena rekaman awal untuk lagu-lagu itu cukup sederhana, saya ada keinginan untuk memperbarui dan memperbagus kualitas rekamannya. Pun juga, lagu-lagu itu sebelumnya hanya dikemas dalam demo, kasihan, kan, masa hanya jadi demo. He-he-he..

Menurut kamu, berhasilkah konsep dasar penyuguhan lagu yang kamu tawarkan lewat Frau ditangkap dengan baik oleh para penikmat musik? Ataukah mereka yang rata-rata menikmati buah karya kamu hanya karena terpukau dengan kemampuan personal kamu memaksimalkan komposisi sederhana lewat perpaduan vokal dan permainan piano saja?

Saya kira, orang mengapresiasi musik dengan dasar pengetahuannya sendiri-sendiri. Begitu banyak unsur dalam musik yang dapat dilihat untuk mengapresiasinya. Kalau mau tahu padanannya dengan lagu-lagu saya, ada yang cukup puas dengan menonton saya main piano dan menyanyi, ada yang puas membaca lirik saya, ada yang puas mendengarkan pilihan nada dalam lagu-lagu saya. Bagi saya, apresiasi orang yang beragam itu seringkali justru lebih menarik daripada musik saya sendiri.

Lalu, sebenarnya pesan mendalam apa yang tersirat pada lagu-lagu Frau dan ingin kamu bagi kepada para penikmat musik di luar sana? Ada tema khususkah?

Nggak ada. Pokoknya saya hanya ingin membuat orang senang, dan sekali lagi, saya ingin membebaskan setiap orang yang mendengar musik saya untuk memaknainya sendiri.

Pernyataanmu pada beberapa artikel wawancara yang pernah saya baca selalu menegaskan bahwa apa yang kamu ciptakan lewat Frau hanya sekadar untuk bersenang-senang (proyek “hore-hore”), mewujudkan kecintaan akan musik, dan kamu tidak terlalu berharap suatu saat akan menjadi seorang solois perempuan yang memiliki nama besar. Mengapa kamu berpikir demikian (padahal saya yakin sekali kamu sangat sadar memiliki potensi luar biasa di diri kamu untuk bisa meraih semua itu)?

Musik itu nyata bahagianya. Nama besar itu maya bahagianya. Sederhana, kan? He-he.. Saya hanya senang membuat lagu, memainkan lagu di depan orang-orang, dan melihat ekspresi mereka saat saya menyanyikannya. Itu saja. Iming-iming nama besar itu malah bisa mengacaukannya. Saya nggak mau, ah, kalau sampai suatu saat nanti saya jadi nggak suka sama musik gara-gara hal, seperti popularitas atau uang. Lagipula, saya punya kecintaan lain di luar musik, seperti kuliah, dan saya lebih suka diberi label sebagai mahasiswi ketimbang musisi.

Frau adalah figur musisi perempuan. Apakah dengan muncul solo seperti ini kamu ingin menunjukkan bahwa seseorang sepertimu bisa menonjol dan diperhitungkan di dunia musik lewat kualitas sejati dirinya?

Wah, feminis? Ha-ha.. Nggak kok. Kalau saya sendiri sih, hanya ingin main musik saja. Kalau kemudian orang merasa begitu, ya nggak tau yaa. He-he..

Di skena musik tanah air sendiri bagaimana kamu melihat keberadaan musisi-musisi solo perempuan secara umum saat ini, baik di ranah mainstream maupun yang sidestream? Dan sejauh mana keberadaan mereka memberi kontribusi positif bagi perkembangan musik lokal-nasional di matamu?

Saya cukup senang dengan munculnya solois-solois perempuan di ranah selain label mayor. Mbak Tika yang bermain dengan the Dissidents adalah salah satu contohnya. Selain Tika and the Dissidents, masih ada serentet nama-nama solois perempuan lain, yang saya pun sangat menyukai musiknya. Yang jelas, mereka menambah khazanah musik lokal. Pengaruh lain, mungkin dari segi reaksi orang. Seiring keluarnya Tika dan beberapa nama lain, saya perhatikan mulai muncul solois-solois lain yang musikalitasnya patut dikatakan bagus.

Sekarang kita bahas Oskar. Bisa kamu ceritakan sedikit tentang apa, siapa dan seberapa dekat hubungan emosionil kamu dengannya (karena kawan-kawan di luar sana pasti banyak yang bertanya-tanya tentang sosok penunjang karir musikmu yang satu ini)?

Oskar adalah piano digital Roland RD700SX yang selama ini menemani si Frau ketika memainkan lagu-lagunya. Dia adalah teman yang sangat baik dalam hampir semua penampilan Frau selama ini. Tapi entah, sekarang saya mulai kurang setia sama Oskar, terlalu banyak yang dia punya, kurang sederhana, dan, ah belum tau, mungkin saya akan berganti partner main. Hu-hu..

Seberapa besar peran dia (Oskar) dalam hidup kamu? Apakah dalam setiap penampilan kamu, Oskar yang selalu kamu bawa adalah Oskar yang sejatinya telah kamu pilih sebagai teman pendamping kamu dalam bermusik selama ini, ataukah Oskar siapa dan mana saja asalkan ia adalah sebuah piano?

Oskar itu ya si piano digital milik saya keluaran Roland. Sesekali Frau tampil dengan piano lain, karena Oskar sedang susah keluar. Jadi, Oskar itu bukan ‘setiap piano yang main sama Frau’, melainkan ya si piano digital yang saat ini milik saya. Sehingga kalau saya jadi ganti partner, namanya tak lagi Oskar, bisa saja Tuan Biswas, atau Djoko.

Kembali lagi ke Starlit Carousel. Saya pribadi selalu suka pendekatan pembuatan lirik berkelas sebagai sebuah konten dalam lagu. Dan sudah banyak yang mengikis perspektif bahwa lirik hanyalah sebagai penambal untuk melengkapi keberadaan musik. Karena lewat liriklah biasanya pesan yang ingin musisi sampaikan kepada para pendengar atau penikmat musiknya bisa terantarkan. Bagaimana kamu melihat peran lirik/syair dalam sebuah karya musik (khususnya untuk kepentingan sisi non-musikal Frau)?

Lirik itu penting sekali. Emosi orang dapat terpengaruh hanya dari mendengar atau membacanya. Selain itu, orang bisa juga membaca diri si penulis lirik dari lirik tersebut. Tulisan seseorang sangat reflektif, tanpa disadari olehnya sendiri. Sejujurnya, saya mengalami kesulitan dalam menulis lirik karena hal itu! Ha-ha..

Lalu untuk upaya pendekatannya sendiri, apa yang kamu lakukan untuk menjadikan lirik memiliki peran penting sebagai penyempurna konsep musik Frau secara keseluruhan?

Saya membaca buku dan rajin kuliah, supaya tulisan bisa berkembang dan inspirasi terus datang.

Khusus untuk nomor Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa, apakah lagu milik Melancolic Bitch ini sudah sedari awal direncanakan untuk ikut serta dalam Starlit Carousel ? Bagaimana ceritanya?

Lagu itu saya gubah, lantas dipamerkan pada peluncuran album Melancholic Bitch beberapa bulan lalu. Saya sangat menyukai lagu ini, dan ternyata beberapa teman juga. Saat hendak mengais-ngais materi untuk merancang kembali album Starlit Carousel, muncul ide sederhana dari teman dan pacar untuk merekam ulang dan memasukkannya ke album ini. Siapa tahu orang lain akan suka juga. Setelah mendapat dukungan positif dari pihak Melbi, rekaman ulang pun dilaksanakan bersama mas Ugo.

Hanya 6 lagu yang ada di album ini. Padahal di versi sebelumnya ada 2 materi yang tidak diikutsertakan di sini: Oskar dan Intensity, Intimately. Ada pertimbangan kenapa tidak menyertakan kedua materi tersebut dalam rilisan kali ini agar durasinya lebih panjang begitu?

Menurut saya, sebuah album tidak harus terdiri atas jumlah lagu tertentu. Ia tidak harus sampai 7 lagu atau 15 lagu. Kita lihat saja begini, sebuah album adalah sebuah karya yang memiliki satu konsep. Ketika konsep itu terbentuk walau hanya dengan 3 lagu, bagi saya, si album sudah komplit. Nah, album Starlit Carousel ini sudah lengkap dengan 6 lagu itu (padahal yaaa, miskin lagu sih! Ha-ha-ha!). Tapi, di versi CD ada kejutan kok.

Seluruh materi dalam Starlit Carousel menghasilkan output dengan sisi pikat yang begitu kuat. Belum lagi ditambah dengan lantunan vokalmu yang membius membuat lagu-lagu di dalamnya menjadi begitu bernyawa. Bagaimana kamu menjelaskan semua itu?

Oh, ya? Wah, Alhamdulillaaaah.. Saya nggak tahu kenapa, tapi mungkin karena setiap saya menyanyi dan main piano, saya selalu ingin memasukkan seluruh emosi ke dalam setiap nada. Ekspresi adalah hal yang penting dalam lagu-lagu Frau. Setiap kata, setiap nada memiliki arti yang sangat dalam, ia patut diperlakukan dengan sepantasnya.

Sebelumnya banyak yang lebih mengenal sosok Lani sebagai kibordis pada unit surf-rock Southern Beach Terror, dan–ternyata–juga mendedikasikan diri sebagai pencabik bas di Essen Und Blood. Kedua band ini sangat bertolak belakang sekali musiknya dengan Frau. Bersama ketiganya (termasuk Frau), apa yang kamu temukan lewat warna-warni musik seperti ini?

Saya suka hampir semua genre musik. Karenanya, saya tidak mau disebut mewakili satu genre tertentu, anak rok en rol lah, anak surf lah. Nggak, ah. Kecuali kalau saya disebut anak gamelan. Saya senang sekali, tuh, kalau sampai begitu, sumpah!

Terakhir, dengan berbekal rilisan ini bagaimana kamu bersama Frau memosisikan diri dalam peta musik lokal-nasional ke depan mengingat ramainya musisi-musisi dan band-band berbakat yang muncul tak kenal waktu, kapan saja, terlebih jika melongok skena Jogja yang sepertinya tidak akan kehabisan talenta?

Ha-ha.. Saya cuma mau berkarya saja, kok. Seperti membuat artefak pribadi yang bisa diceritakan kepada anak cucu saja. Itu masa depan bagi saya.

 

Teks Wawancara oleh Zelva Wardi
Foto Dok. Frau

_____

URL:
www.myspace.com/ffrau
www.frau.co.nr

Iklan

2 comments on “Frau: Tentang Musik, Nama Besar, dan Perihal Ketidaksetiaannya Terhadap Oskar

  1. Music Malang
    Desember 24, 2010

    Regina Spektor…..

  2. Ping-balik: Frau Rilis Gratis Album “Happy Coda” | REB Magazine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 19, 2010 by in WAWANCARA and tagged , , , , .
%d blogger menyukai ini: