REBMAGZ

Besok Bubar – Cuci Otak: Sebuah Manifestasi Gerung Kemarahan

Besok Bubar - Cuci Otak
Saat mendengar nama Besok Bubar, sebuah set di kepala pun mencoba membentuk penilaian tersendiri terhadap grup ini. Satiris, humorik sarat dengan sindiran sana sini.  Walau jujur saja, sekilas justru terkesan lebih nge-punk.

Agaknya musik pengaruh era grunge sedang mengintip dan mencoba menjalari aras permukaan gaya bermusik di Indonesia pada saat ini. Terlihat dari kemunculan beberapa band-band yang cukup bisa diacungi jempol. Ya, alternative-rock dengan pengaruh ’90’s seattle sound tepatnya. Bukan ‘grunge’ bernuansa Nirvana wannabe atau euphoria Vedder yang dulu sempat mewarnai skena ini.

Kali ini kita mencoba menggerayangi Besok Bubar dan turut berkubang ke dalam kolam pencucian otak yang ditawarkan mereka. Adalah Amar, Andri dan Egy yang mencoba menghidangkan materi-materi mereka ke dalam sembilan trek berbahasa Indonesia plus sebuah trek berbahasa Inggris. Cuci Otak, sebuah judul yang mencoba menyeret kita untuk berinterpretasi lebih lanjut dengan ‘apa maunya’ album perdana mereka ini.

Saat di dalam, saya seperti hadir dalam sebuah pesta reuni grup-grup legendaris ternama macam Alice in Chains, Mudhoney, STP, Soundgarden, Tad dan tentu saja Nirvana. Ya, materi-materi yang mencoba tampil sepertinya adalah hasil racikan kental dari berbagai unsur grup-grup tadi. Dari sini tampak mereka berhasil memadukan kesemuanya menjadi komposisi yang manis dalam trek-trek ala Besok Bubar. Riff-riff yang cukup emosionil dan komposisi gerungan distorsi masif yang menyiratkan kemarahan dan kegelisahan terasa cukup mengena. Raungan vokal Amar pun cukup mewakili warna dari materi-materi ini. Saya yakin di progres mereka berikutnya kematangan mengkomposisi materi mereka dapat lebih berkembang dan tereksplorasi. Satu kata, keren.

Namun ekspektasi saya sepertinya terhambat di ranah penulisan teks. Ada kesan dipaksakan dalam tutur maupun lanturan yang ditampilkan di sini. Gaya urakan yang dipilih untuk mengekspresikan pesan secara gamblang justru menjadi terdengar naif. Di tengah keseluruhan kelugasan lirik ada usaha mencoba bergaya metaforik dalam nomor Perangkap Tikus. Namun itupun seperti terdengar mentah. Entahlah, saya begitu terganggu dengan kata-kata “terjamin mutunya” dalam lirik:


“di rumahku kotor di rumahku banyak tikus,
sudah sangat mengganggu dan harus diberantas
untung aku punya perangkap tikus yang ampuh,
yang sudah terbukti dan terjamin mutunya”

Padahal konsep menyisipkan pesan sosial dan politik sepantasnya dapat jauh dari kata-kata yang dirasakan klise. Hingga kritik yang ingin disampaikan dapat lebih tajam, dalam dan mengena. Apapun gaya yang dipakai, puitikal ataupun yang lebih gamblang/lugas.

Walaupun saat dinyanyikan seperti tertutup oleh gaya bervokal Amar. Namun justru ini yang riskan, akibatnya adalah fokus pendengar akan teralihkan hanya di ranah teknis saja. Pesan dan kritik tajam pun seperti menjadi tenggelam di dalamnya. Walaupun begitu, kesadaran untuk menyematkan pesan sosial dan politik dalam materi-materinya cukup layak untuk dihargai.

Satu lagi unsur yang paling vital dalam sebuah rilisan adalah artwork. Sayangnya sepertinya rilisan ini tidak dibekali sebuah baju zirah artwork yang memadai. Kesan seadanya banget menjadi hal yang menonjol dalam kemasannya. Seperti gambar otak, terjemahan visualisasi yang terkesan terlalu literal dari judul albumnya. Kolase fotografi yang standar dan sedikit kesan pemborosan bahan dari packagingnya. Padahal saat saya menghadiri launching rilisan ini, desain poster invitasi yang dipampang sangatlah menghajar sekali. Hingga ekspektasipun tercipta untuk ingin tahu seperti apa desain packaging albumnya.

Padahal unsur artwork sangatlah penting sebagai penyempurna gagahnya sebuah komprehensi konsep sebuah karya. Artwork dapat menjadi salah satu solusi di alam kini mengapa sebuah rilisan bisa menjadi collectible. Kepuasan penggemar akan sangat terpenuhi dan berbeda rasanya dibanding mereka yang hanya memiliki hasil rip-ripan atau malah hanya mp3 saja. Terlebih rilisan ini disebarluaskan dengan tidak gratis alias dijual.

Agaknya kematangan konsep memang diperlukan di sini. Hingga karya yang dikeluarkan diharapkan dapat menjadi satu kesatuan utuh yang dapat dipertanggungjawabkan. Semoga dalam proses berkarya berikutnya akan terlihat progresi yang cukup signifikan dari grup ini. Karena musik dengan pengaruh apapun adalah sebuah konsep yang cukup kuat dengan segala gaya dan kejujuran yang terdapat di dalamnya. Kemunculan Besok Bubar dalam skena ini diharapkan akan lebih menghidupkan kembali sebuah warna dalam jutaan warna-warni ekspresi musikal di Indonesia.

Teks: Adit Bujbunen Al Buse

Besok Bubar adalah:

Amar Gill               : Vocal & Guitar
Egy Hooha            : Bass
Satria Andriono  : Drums

Track List :
1. Pahlawan Bertopeng
2. Penguasa
3. Perangkap Tikus
4. Tivi Butut
5. Raksasa (feat robi navicula)
6. Cuci Otak
7. Politrick
8. Bedtime Stories
9. Busung Lapar
10. Diskriminasi

Iklan

3 comments on “Besok Bubar – Cuci Otak: Sebuah Manifestasi Gerung Kemarahan

  1. Inopan Kaliang
    Maret 12, 2010

    No comment..Just support..

    \m/ (x.X) \m/
    support..
    \m/ (x.X) \m/
    supprot..
    \m/ (x.X) \m/
    support..
    \m/ (x.X) \m/
    supprot..
    \m/ (x.X) \m/
    support..
    \m/ (x.X) \m/
    supprot..
    \m/ (x.X) \m/
    ampe moncrot..

  2. adhi
    Maret 19, 2010

    review yang keren.. mantab kritiknya dan jujur. buat amar, ini adalah penghargaan yang sebenarnya dari jurnalis. terus maju

    • rebelzine
      Maret 29, 2010

      terimakasih bos! harapannya semoga bisa memacu sang kreator untuk bisa terus berkarya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 11, 2010 by in RESENSI ALBUM and tagged , , , .
%d blogger menyukai ini: