REBMAGZ

United We Care in Loving Memoriam – Robin ‘NOXA’ (25.01.2009)

rundown-uwc-1

Setelah beberapa kali gonta-ganti line-up pengisi acara, akhirnya ditetapkan ada 36 band yang mengisi gelaran “United We Care” ini. Sebelumnya cukup banyak yang ingin tampil, mengingat ini adalah acara amal sekaligus untuk mengenang almarhum Robin yang dikenal memiliki pergaulan yang luas. Walau didominasi band-band metal, terdapat beberapa penampil dari genre lain.

Saya tiba di Bulungan Outdoor tepat pukul 15.00. Sangat telat. Saya melewatkan 17 band yang dirundung tampil bergantian sejak pukul 10.00 pagi. Beberapa yang terlewatkan adalah: Divine, Friends of Mine, Thrashline, Paper Gangster, Dead Vertical, dan Thinking Straight.

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-49

Sebelumnya saya sempat ragu dengan line-up yang demikian banyak, apakah acara akan selesai tepat waktu. Terlebih acara digelar di Bulungan Outdoor. Perlu diingat izin penyelenggaraan acara di tempat ini tidak bisa lagi hingga terlalu malam. Solucites yang bertindak selaku panitia hanya mendapat izin dari kepolisian hingga pukul 19.00. Sedangkan jika mengikuti rundown, band terakhir dijadwalkan tampil pukul 20.00. Bisa-bisa ada yang tidak tampil…

Oke, singkirkan dulu kemungkinan jika tidak semua band bisa tampil. Kita kembali ke acara. Ketika saya datang, Dreamer memainkan lagu terakhir. Ada wajah yang tak asing di band ini, Vicky Notonegoro (gitar). Memainkan nuansa gothic metal modern persenyawaan Lacuna Coil dengan Evanescence. Sayang, suara Rika (vokal) tenggelam oleh musik. Ciri khas gothic voice yang seharusnya kentara jadi tak terasa.

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-23

Selanjutnya ada Burger Kill yang akhir tahun lalu berkesempatan membuka konser band metalcore, As I Lay Dying. Secara penampilan tak diragukan. Hanya saja jatah 20 menit (2 lagu –ed) berikut checksound on stage terasa terlalu singkat untuk Burger Kill. Rintik hujan sempat turun ketika mereka tampil, namun tak lama. Para metalheads juga tak beranjak dari tempat berpijaknya. Sebagai informasi, band hardcore Ujung Berung, Bandung ini akan melakukan tur Australia-nya pada Februari nanti.

Usai Burger Kill, Trauma mengambil alih panggung. Penonton tak perlu menunggu lama. Setiap band memaksimalkan durasi tampil yang diberi panitia dengan tidak mengulur-ulur waktu. Trauma yang belum lama ini mengeluarkan album bertajuk “Dominasi Kemenangan”, bermain kurang impresif. Nino (vokal) tidak tampil dalam performa terbaiknya. Kurang bersemangat.

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-27

Suguhan metal dari band-band sebelumnya kemudian dicairkan oleh irama rock n roll dari The Brandals. Sudah lama saya tidak mengikuti perkembangan band ini. Mereka bermain baik walau posisi lead gitar sepertinya bukan diisi oleh Bayu. Getah tampil setelah The Brandals. Mereka adalah salah satu band lawas dalam line-up acara ini yang juga tampil cukup baik.

The Upstairs & Angel of Death yang tampil setelahnya tak terlalu saya perhatikan. The Upstairs mempersembahkan 1 lagu berjudul “Robin Johnny” untuk mengenang alm. Robin. Di kerumunan penonton yang berkaus serba hitam terdapat segelintir modern darling (sebutan bagi fans The Upstairs –ed) dengan setelan nyentrik.

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-69

Penampil berikutnya adalah band lawas lainnya, ROXX. Ada suguhan pembacaan puisi dari Komeng Mortus untuk mengenang alm. sebelum mereka tampil. Penonton mulai membludak. Tiket dikabarkan terjual habis. Sekitar dua ribu penikmat musik metal berbondong-bongong mendekati panggung. Mereka mencari sudut pandang terbaik untuk menyaksikan para performer.

Ketika ROXX naik, penonton yang sebelumnya malu-malu mulai terlihat agresif untuk melakukan moshing. Dua lagu yang dimainkan berhasil memancing adrenalin para metalheads yang merogoh kocek sebesar Rp 20.000,- untuk hadir di gelaran ini.

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-60

Euforia gelaran metal baru benar-benar terasa ketika Purgatory tampil. Venue makin sesak. Penonton makin liar. Pagar pembatas panggung dan penonton mulai didorong. Aksi sikut-menyikut tak terhindarkan. Tapi tetap dalam batas wajar. Band straight metal yang membawakan konten religius ini tampil dengan dandanan khas mereka. Kostum, topeng dan body painting yang sudah lekat dalam setiap aksi panggung Purgatory. Untuk penampilan kali ini, mereka mengkampanyekan aksi boikot Israel sekaligus menggalang dana untuk Palestina dari hasil penjualan CD “Beauty Lies Beneath” dan merchandise mereka.

Berikutnya adalah suguhan dadakan dari band grindcore veteran yang tak masuk line-up acara, Tengkorak. Bagi metal heads yang hadir ini adalah bonus. Apalagi formasi yang tampil adalah formasi lama. Ombat (vokal) mengenakan kaus bertuliskan ‘Boycott Israeldan tanpa alas kaki ketika tampil. Walau terkesan dadakan, penampilan Tengkorak tetap jempolan. Berhasil membuat kerumunan yang memadati Bulungan Outdoor makin panas. Ombat juga sempat melakukan crowd diving, melemparkan dirinya ke penonton di awal-awal lagu pembuka. Sebenarnya mereka hanya didaulat memainkan 1 lagu, karena tak ada di line-up acara. Namun, makin liarnya penonton memaksa mereka memainkan 1 lagu lagi. Mantabbb…!!

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-75

Ludesnya tiket menunjukkan bahwa apresiasi dan respek penikmat musik metal terhadap Robin begitu besar. Band-band yang sebagian besar merupakan headliner di gelaran-gelaran metal juga kabarnya tak mendapat kompensasi finansial di acara ini. Semuanya mereka lakukan atas dasar pertemanan, persaudaraan dan kepedulian sesama rekan musisi dan metalheads. Itu kenapa acara ini diberi tajuk “United We Care”.

Jeda maghrib acara dihentikan sejenak. Steven and Coconut Trees bersiap-siap di panggung. Penonton diberi kesempatan untuk menghela nafas. Kehadiran rekan-rekan musisi dari genre yang lain, katakanlah rock n roll, reggae, retro, pop punk di gelaran ini membuktikan tak ada batas di musik. Robin alm. juga dikenal tak membatasi pergaulannya di scene metal saja namun juga di scene lain. Ini sedikit mengajarkan kita bahwa persatuan di ranah musik apapun sangat diperlukan.

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-81

Usai maghrib, acara yang dipandu Arie Dagienkz dan Edi Brokoli kembali dilanjutkan. Penonton yang kian padat kembali berkerumun mendekati bibir panggung. Tanpa basa-basi Steven and Coconut Trees menggoyang Bulungan dengan musik reggae yang kental. Para metalheads yang datang mengapresiasi dengan baik. Seharusnya mereka hanya memainkan 2 lagu, sama seperti penampil yang lainnya. Namun, karena permintaan penonton mereka memainkan 1 lagu tambahan.

Jam di ponsel saya menunjukkan pukul 18.55 ketika penampilan Steven cs berakhir. Di rundown acara masih tersisa 9 band. Membutuhkan waktu sekitar 120 menit untuk mereka semua benar-benar bisa tampil. Dan itu sepertinya tidak mungkin. Keraguan saya di awal ternyata kejadian. Andre dari Solucites menjelaskan kepada semua penikmat musik yang hadir, bahwa keriaan malam itu harus disudahi karena terbentur izin keamanan. Sempat dilakukan negoisasi kembali oleh panitia, namun pihak kepolisian tetap tidak memberikan toleransi untuk melanjutkan acara. Kecewa tentu saja…

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-97

Mereka yang tak bisa bermain adalah: Flowers, Dead Squad, Netral, Naif, Komunal, Superglad, Seringai, termasuk NOXA, dan juga penampilan spesial Rockstar Conspiracy yang saya sendiri belum tahu siapa saja mereka. Sangat disayangkan…

Walaupun tak diperbolehkan melanjutkan penampilan band yang tersisa, tapi pihak kepolisian memberikan sedikit toleransi waktu untuk menghadirkan orangtua Robin dan memutar slide foto serta audio testimoni untuk mengenang alamarhum.

Usai rangkaian tersebut, gelaran “United We Care in Loving Memoriam – Robin NOXA” terpaksa harus berakhir sebelum pukul 20.00. Sebagian besar penonton meninggalkan venue dengan tertib walau sedikit kecewa.

*****************

uwc-in-loving-memory-robin-noxa-58

Mulanya acara ini adalah bentuk penggalangan dana bagi kesembuhan Robin. Seluruh keuntungan, baik dari penjualan tiket dan merchandise akan dialokasikan untuk membantu biaya rumah sakit Robin. Namun, sebelum acara ini benar-benar digelar, Robin terlebih dahulu ‘pergi’, dan meninggalkan duka yang mendalam pada 17 Januari lalu. Akhirnya, sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan atas dedikasi Robin di scene musik lokal terutama musik metal, seluruh keuntungan dari gelaran ini (+/- Rp 50 juta) tetap disumbangkan kepada keluarga Robin.

Dan gelaran “United We Care in Loving Memoriam – Robin NOXA” menjadi sebuah persembahan dari rekan-rekan musisi, untuk andil Robin yang begitu besar bagi perkembangan musik ekstrim tanah air.

(teks reportase: zelva wardi/foto: adit bujbunen al buse)

Iklan

One comment on “United We Care in Loving Memoriam – Robin ‘NOXA’ (25.01.2009)

  1. fikkri
    Mei 30, 2009

    hai bro apa labar? titip salam ma anak-anak underground bandung ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: